Sahabat gue sayang :D

Semenjak gue kuliah,, ada aja yang terjadi sama idup gue,, mulai dari tumbuh jerawat mungil yang banyak sampe gue jatoh dari motor karna temen gue bawa motornya udah kayak pembalap kelas kakap,,
ya mungkin itulah suratan nasib yang udah di posin ke gue semenjak gue dalem kandungan,,

di kampus gue punya sahabat-sahabat yang mungkin menurut gue mereka itu unik-unik,,


nah yang pertama ini namanya icha,, nama aslinya Choirun Nisa,, anaknya pak Bambang,, sahabat gue yang satu ini lemah lembut banget sampe gak kerasa juga kalo deket dia karna saking lembutnya. dia itu kayak putri raja yang disebut Princess itu,, ya itulah icha,,

next, kita ketemu sama yang namanya Destri,,


bocah yang satu ini rumahnya paling jauh,, sebenernya jauhan gue sih,, cumakan gue kost gituhh.. destri paling seneng kalo di panggil dengan sebutan Tenma,, entah tu nama berasal dari planet mana juga gue ga ngerti,, yang penting dia seneng dipanggil dengan sebutan itu,, ni bocah yang paling sering galau diantara kami berlima,, entah gue juga gak tau kenapa bisa gitu,,

Lanjut kita ketemu sama Uni,,


namanya sih Nova,, gue sama sahabat gue yang lain manggil dia Uni karna dia asli suku Padang,, so ya kita ngikut manggil dia kayak begitu,,

ni yang paling pria diantara kita,, Heri namanya,,


orang yang paling suka ngajak berantem argumen,, kalo dia udah emosi bahaya,, bisa-bisa yang dikeluarin hadis,, ni sahabat gue yang paling pria,, hahahaaa

and yang terakhir ya gue

orang paling aneh,, itu menurut gue sendiri,, tapi ya lagi-lagi gue katakan itu suratan takdir yang gue terima di kotak pos 19 tahun yang lalu,, berkepribadian gak jelas banget,, kadang-kadang gini n kadang-kadang gitu,, kepribadian yang nurut sama mood,,gue lebih suka berdiam diri di kamar kos gue daripada keluar kamar,, karna gue bingung kalo udah keluar apa yang mesti gue lakuin,, 
yah itulah gue,,

sebenernya gue lebih suka berdiam diri mantengin notebook gue yang imut ini,, tapi ya sebagai makhluk sosial gue juga harus berinteraksi dengan mereka-mereka yang berada di luar kamar.
ini hidup gue sekarang,, gue juga ga tau apa yang bakal terjadi besok.

Wallahulmuwafiq ila aqwamithariq,,


Nasikh


A.    PENGERTIAN NASIKH

Secara etimologi, nasikh mempuyai beberapa pengertian, yaitu penghilangan (izalah), penggantian (tabail), pengubahan (tahwil), dan pemindahan (naql). Sedangkan sesuatu yang dihilangkan, digantikan, diubah, dan dipindahkan disebut mansukh. Sedangkan dari segi terminologi “menghapuskan” adalah terputusnya hubungan hukum yang dihapus dari seseorang mukallaf dan bukan terhapusnya substansi hukum itu sendiri.
Menurut Quraish Shihab bahwa ulama-ulama mutaqqadimmin dan muta’akhirin tidak sepakat dalam pengertian nasikh secara terminologi. Kemudian para ulama-ulama mutaqqadammin memperluas arti nasikh hingga mencakup:
1.      Pembatalan hukum yang ditetapkan oleh hukum yang ditetapkan
2.      Pengecualaian hukum yang bersifat umum oleh hukum yang spesifik yang datang.
3.      Penjelasan susulan terhadap hukum yang bersifat ambigius
4.      Penetapan syarat bagi hukum yang datang kemudian guna membatalkan atau merebut atau meyatakan berakhirnya masa berlakunya hukum terdahulu.

B.     PERBEDAAN NASIKH, TAKHSISH, DAN BADA’

Terdapat perbedaan diametral, antara Ibnu Katsir, Al-Maraghi,dan Abu Muslim Al-Ashfahani dalam memandang persoalan nasikh. Ibnu Katsir dan Al-Maraghi memandang tiga hal yang merupakan sebagai nasikh, sedangkan Al-Ashfahani memandang tiga hal tersebut sebagai takhsish. Al-Ashfahani menegaskan pendapatnya bahwa tidak ada nasikh dalam Al-Quran. Walau pun di dalam Al-Quran terdapat cakupan hukum yang bersifat umum, untuk mengklasifikasikannya dapat dilakukan proses pengkhususan (takhsish). Dengan demikian takshish, menurutnya dapat diartikan sebagai “mengeluarkan sebagian satuan (afrad) dari satuan-satuan yang tercakup dalam lafazh’aam.

Bertolak dari pengertian nasikh dan takhshish tersebut di atas, maka salah satu  perbedaan prinsipil antara keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut:
Nasikh adalah menghapuskan hukum dari seluruh satuan yang tercakup dalam dalil mansukh. Sedangkan Takhsish merupakan hukum dari sebagian satu yang tercakup dalam adil’amm.
Adapun pengertian bada’ menurut sumber-sumber kamus yang masyhur, adalah azh-zhuhur ba’da al-khafa’ (menampakan setelah tersembunyi). Definisi ini tersirat dalam firman Allah surat Al-jatsiyyah (45) ayat 333.
Dan tanyalah bagi mereka keburukan-keburukan apa yang telah mereka kerjakan.
Pada arti lainnya bada’ adalah nasy’ah ra’yin jadid lam yakumaujud (munculnya pemikiran baru sebelumnya tidak terlintas). Definisi ini tersirat pada firman Allah (Q.S. Yusuf {18}:35)

Dari kedua definisi tersebut dapat perbedaan yang jelas dengan hakikat nasikh. Dalam bada’ timbulnya hukum baru disebabkan ketidaktahuan sang pembuat hukum tentang kemungkinan munculnya hukum baru tersebut. Ini tentu berada dengan  nasikh, sebab dalam nasikh, bagi ulama yang mengakui keberadaannya, Allah mengetahui nasikh dan munsukh sejak zaman azali, sebelum hukum-hukum itu diturunkan pada manusia.

C.     DASAR-DASAR PENETAPAN NASIKH DAN MANSUKH

Manna’ Al-Qaththan menetapkan tiga dasar untuk menegaskan bahwa suatau ayat dikatakan nasikh (menghapus), dan ayat lain dikatakan mansukh(dihapus), ketiga dasar tersebut adalah:
1.      Melalui pentransmisian yang jelas (an-naq ash-sharih) dari nabi dan para sahabatnya, seperti hadis yang berbunyi kata nahaitukum ‘an ziyarat al-qubur ala fazuruha (aku dulu melarang kalian untuk berziarah kubur, (sekarang) berziarahlah. Juga seperti ungkapan Anas berkaitan dengan ashab sunur Ma’umah, Wa nuzilah fihim quran qara’nah hata rufi’a (untuk mereka telah turun ayat sampai akhirnya dihapus)
2.      Melalui kesepakatan umat bahwa ayat ini nasikh dan ayat ini mansukh.
3.      Melalui studi sejarah, ayat mana yang lebih belakang turun, sehingga disebut nasikh, dan ayat mana yang lebih dulu turun, sehingga disebut mansukh.
Al-Qaththan menambahkan bahwa nasikh tidak dapat ditetapkan melalui prosedur ijtihad atau pendapatan ahli tafsir karena adanya kontradiksi antara beberapa dalil bila dilihat dari lahirnya, atau belakangnya keislaman salah seorang dari pembawa riwayat.

D.    PERPENDAAN PENDAPAT TENTANG ADANYA AYAT-AYAT MANSUKH DALAM Al-QURAN

Sebagaimana telah disebutkan di atas, terapat perbedaan dikalangan ulama tentang eksistensi nasikh dalam Al-Quran. Mayoritas ulama mengakui keberadaan nasikh dalam Al-Quran. Sementara itu Abu Muslim Al-Ashfahani menolak keberadaannya. Gagasan lain mendasari mayoritas ulama tentang teori nasikh adalah penerapan perintah-perintah tertentu kepada kaum muslimin di dalam Al-Quran yang haya bersifat sementara, dan bahwa tatkala keadaan telah berubah, perintah tersebut dihapus dan diganti dengan perintah baru lainnya. Namun, karena perintah-perintah itu Kalam Allah, ia harus dibaca sebagai bagian dari Al-Quran.

E.     BENTUK DAN JENIS NASIKH DALAM AL-QURAN

 Berdasarkan kejelasan dan kecakupannya, nasikh dalam Al-Quran dibagi menjadi empat macam, yaitu:
1.      Nasik sharih, yaitu ayat yang secara jelas menghapus hukum yang terdapat pada ayat terdahulu. Umpamanya ayat tentang perang (qital) pada surat Al-Anfal {8}:ayat 65 yang mengharuskan satu orang muslim melawan 10 kafir.
2.      Naskih dhimmy, yaitu jika terdapat dua nasikh yang saling bertentangan dan tidak dapat dikompromikan. Keduanya turun untuk sebuah masalah yang sama, dan diketahui waktu turunnya, maka ayat yang datang kemudian menghapus ayat yang terdahulu.
3.      Nasikh Kully, yaitu penghapusan hukum sebelumnya secara keselurhan.
4.      Nasikh Juz’iy, yaitu penghapusan hukum umum yang berlaku bagi semua individu dengan hukum yang haya berlaku bagi sebagian individu, atau penghapusan hukum yang bersifat muthlaq dengan hukum yang muqayyad.

Dilihat dari segi bacaannya dan hukumnya, mayoritas ulama membagi nasikh kepada tiga macam, yaitu:
1.      Penghapusan terhadap hukum dan bacaan secara bersama ayat-ayat yang tergolong kategori ini tidak dibenarkan dibaca dan tidak benar diamalkan.
2.      Penghapusan terhadap hukumnya saja, sedangkan bacaannya tetap ada. Contohnya, ajakan para penyembah berhala dari kalangan musrikin pada umat islam untuk saling bergantian dalam beribadah.
3.      Penghapusan terhadap bacaannya saja, sedangkan hukumnya tetap berlaku.

Adapun dari sisi otoritas yang lebih berhak menghapus sebuah nash, para ulama membagi nasikh ke dalam empat macam:
1.      Nasikh Al-Quran dengan Al-Quran.
2.      Nasikh Al-Quran denga As-Sunah.
3.      Nasikh As-Sunah dengan Al-Quran.
4.      Nasikh As-Sunah dengan As-sunah.





F.      HIKMAH KEBERADAAN NASIKH

Menurut Manna’ Al-Qaththan, ada empat hikmah keberadaan ketentuan nasikh, yaitu:
1.      Menjaga kemaslahatan hamba.
2.      Mengembangkan pensyariatan hukum sampai pada tingkat ke sempurnaan, seiring dengan perkembangan dakwah dan kondisi manusia itu sendiri.
3.      Menguji kualitas keimanan mukallaf dengan cara adanya suruhan yang kemudian dihapus.
4.      Merupakan kebaikan dan kemudahan bagi umat. Apabila ketentuan nasikh lebih berat daripada ketentuan mansukh, berarti mengandung konsekuensi pertambahan pahala. Sebaliknya jika ketentuan dalam nasikh lebih mudah daripada ketentuan mansukh, itu berarti kemudahan bagi umat.    


Derajat Wanita



Wanita dalam Pandangan Bangsa Arab Jahiliyah
          Wanita dalam pandangan bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam sangat hina. Mereka merasa malu dan terhina apabila isterinya melahirkan anak seorang wanita, sehingga apabila istri hamil sisuami telah menyediakan sebuah lubang. Apabila anak yang dilahirkan itu seorang wanita maka akan segera dikubur hidup-hidup agar terlepas dari rasa malu, Kalaupun anak wanita dibiarkan hidup nasibnya akan sangat buruk, diperlakukan sebagai budak belian, mengangkut beban yang berat atau paling baik nasibnya diperlakukan sebagai boneka dipaksa untuk melakukan pelacuran atau dimadu dengan tidak terbatas (Thahar,1982:23)
Seorang ayah akan tega mengubur anaknya hidup-hidup demi kehormatan suku dan keluarganya. Jika seorang wanita ditinggal mati oleh suaminya maka di harus masuk kurungan dan dengan memakai pakaian yang buruk.
Dan tidak boleh memakai harum-harumanan sebelum satu tahun dan tidak menerima warisan, tetapi dapat menjadi warisan sehingga bila seseorang yang wafat meninggalkan wanita maka saudara tuanya orang yang paling dekat dengannya akan mendapat warisan untuk memiliki jandanya. Rendahnya martabat wanita ini juga terlihat dengan hakikat perkawinan mereka yang bersifat possessive. Mereka tidak memberi batasan berapa jumlah wanita yang boleh dinikahi oleh laki-laki. (Fakih, 1996:51-52) Wanita yang dicerai juga tidak mempunyai iddah sehingga dapat dirujuk aleh suaminya kapan saja ia suka.

Wanita dalam pandangan bangsa Indonesia.
     Bangsa Indonesia dahulu turut merendahkan wanita sebagaimana bangsa lainnya sekalipun tidak menamakannya dengan Iblis atau binatang tetapi intinya tetap menganggap bahwa wanita itu tidak berharga sama sekali. Wanita tidak diperbolehkan maju sama dengan kaum laki-laki karenanya wanita dididik untuk mengurus rumah tangga den memperhambakan dirinya kepada laki-laki. Wanita dimulai dipingit setelah berusia 12 tahun, dan tidak mementingkan pendidikan, dan pengaruh yang lama ini masih mempengaruhi pola pikir masyarakat pedesaan. Mereka beranggapan bahwa tidak perlu berpendidikan yang tinggi bagi anak wanita karena tempatnya di dalam rumah. "Setinggi-tingginya wanita tetap kembalinya di dapur" suatu semboyan yang salah besar yang masih didapati dalam masyarakat Indonesia.
Di Indonesia yang menjadi ingatan kaum wanita yang telah berjuang untuk mengangkat derajat kaum wanita adalah Ibu R.A Kartini (1879-1904), seorang tokoh yang menyadari bahwa seharusnya tidak ada perbedaan pendidikan antara laki-laki dan wanita. Perjuanganya berhasil dan jasa-jasanya tetap dikenang bangsa Indonesia hingga sekarang ini. Menurut Bachtiar (1979:58) memang Kartini sebagai lambang perjuangan kaum wanita namun dalam kenyataan sejarah di Indonesia pernah ada wanita yang memimpin negara (negara dalam arti wilayah yang sekarang disebut dengan provinsi setelah Indonesia Merdeka) yakni Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatudddin Johan Berdaulat dari Aceh yang memerintah Aceh menggantikan suaminya pada tahun 1641 dan Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan yang menggantikan kakeknya pada tahun 1856 untuk menjadi kepala negara di Kerajaan Tanette atau Datu Tanette. Keduan tokoh ini jarang disebut dalam sejarah.
Namun demikian di daerah-daerah hingga sekarang masih terlihat juga kesenjangan yang sangat jauh antara laki-laki dan wanita. Wanita masih saja dianggap lebih rendah dari wanita. Misal di daerah Batak sebuah keluarga tidak akan merasa bangga sebelum memiliki anak laki-laki.

Wanita dalam pandangan agama diluar Islam.
        Agama-agama yang ada selain Islam memandang rendah terhadap wanita sebagaimana yang disebutkan dalam kitab agama yang mereka tulis. Misalnya dalam agama Hindu, Berahma memandang wanita dengan sangat rendahnya seperti dituliskan oleh Manu yang dikutip Glen kamarisah Thahar:
Orang kehilangan kehormatan karena perempuan, dan asal permusuhan adalah perempuan. Perempuan memiliki tabiat menggoda laki-Iaki dan tidak pernah dapat mandiri. Wanita.tidak diperkenankan menuruti kehendaknya sendiri tapi harus tunduk kepada orang tua(yang belum menikah)atau pada suaminya. Wanita itu sama dengan budak belian yang punya satu tuan yakni suaminya.(Thahar ,1982:30)
Kita melihat dalam pelaksanaan keagamaan orang hindu bahwa apabila seorang wanita ditinggal mati oleh suaminya maka harus rela dibakar hidup-hidup sebagai tanda kesetiaann dan kecintaan seorang istri terhadap suaminya. Betapa menyedihkan nasib wanita, padahal kalau seorang suami yang ditinggal mati oleh istrinya, tidak disuruh untuk menyertai isterinya dibakar.
Dalam pandangan agama Yahudi seorang wanita dijadikan Tuhan dengan mencabut tulang Nabi Adam, apabila seorang wanita melahirkan anak laki-Iaki dia menjadi najis selama satu minggu tetapi jika dia melahirkan anak perempuan dia menjadi najis dalam dua minggu. (Imamat pasal 12:2). Ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan laki-laki dengan perempuan. Setiap orang yahudi laki-laki dalam sembahyangnya setiap pagi memujakan "Terpujilah Tuhan yang telah membuatku tidak perempuan" (Thahar.1982:37) Dan perempuan Yahudi bersembahyang mengucapkan. "Terpujilah Tuhan Robbul Alamin, bahwa la membuat aku menurut kehendaknya" . Sementara dalam agama kristen disebutkan dalam perjanjian baru bahwa: "Tetapi aku suka kamu mengetahui, bahwa kepala tiap laki-laki itu Kristus dan kepala perempuan itu Laki-laki dan kepala Kristus itu Allah". (Korintus I pasal 11: 3). Diayat lain dinyatakan agar wanita itu tunduk dan patuh pada suami karena laki-laki yang menjadi suaminya adalah pemimpin bagi istrinya. Sehingga dalam sidang Jumat wanita dilarang untuk berbicara kalaupun dia ingin bertanya cukup pada suaminya dirumah, karena wanita tidak punya hak untuk berbicara dalam sidang jumat.
Dalam agama Kong Hu Chu wanita direndahkan dan laki-laki itu disucikan sebagai tanda kesucian mereka itu, wanita dilarang duduk bersama-sama dengan mereka untuk menuntut ilmu.

Wanita dalam Pandangan Agama Islam
          Dalam pandangan Islam tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan wanita. Islam sebagai agama rahmatan lil'alamin telah mengangkat derajat kaum wanita dari penindasa dari ajaran-ajaran sebelumnya. Islam mengajarkan bahwa pria dan wanita itu sama yakni mempunyai hak dan kewajiban dan tidak ada yang lebih dimuliakan kecuali orang yang lebih bertaqwa.
Islam adalah konsep aturan-aturan yang maha Pencipta untuk manusia adat. Ajaran Islam menetukan keseimbangan tindakan manusia dengan hukum alam. Islam menuntun manusia pria dan wanita, dalam melaksanakan tugas kehidupannya sebagai khlifah dimuka bumi.
Islam yang telah digariskan dalam al-Quran bukanlah risalah tentang filsafaht, namun mengungkapkan secara eksplisit tentang tiga topik filsafat alam semesta, manusia dan masyarakat. Dalam pandangan tentang pria dan wanita al-Quran menerangkan bahwa keduanya dalam penciptaannya pada hakikatnya berasal dari satu jiwa dan sifat serta esensi yang sama pula.
Wahai sekalian manusia, bertqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama dan daripadanya tuhan menciptakan pasangannya dan daripada keduanya diperkembang biakkan laki-laki dan wanita yang banyak. (QS 4: 1).
Disini jelas ditekankan bahwa tidak adanya adat perbedaan derajat antara pria dan wanita. Dengan kata lain tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Keduanya memang tidak diciptakan dalam bentuk yang sama persis, melainkan sebagai pasangan yang saling melengkapi manusia. Pasangan ini memiliki kemampauan yang berbeda, laki-laki lebih kuat fisiknya sehingga dapat bekerja yang berat sedangkan wanita fisiknya lembut, memungkinkan baginya pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan dalam kesabaran. Jiwa laki-Iaki lebih mudah bergalak dan lebih kasar sedangkan wanita lebih tenang dan lebih halus, yang membutuhkan pengayoman. Perbedaan in selintas menunjukkan masing-masing punya kelebihan dan kekurangan tetapi bila ditelaah lebih jauh, ini merupakan sinkranisasi alam yang harmonis bila dipadukan.
Ketentuan Islam dalam meletakkan posisi pria dan wanita berdasarkan pada bakat dan kecendrungan alam yang mereka alami, tanpa pemaksaan yang tidak sesuai dengan kondisi alami pria dan wanita. Karenanya posisi yang digariskan islam disesuaikan dengan identitas yang has dan selaras dengan apa yang ada pada pria dan wanita.
Islam memberikan hak-hak wanita yakni sebagaimana yang telah digariskan dalam Islam antara lain:
1) Wanita menjadi pasangan bagi pria (OS. 4:1, 16:72, 2:187, 30:189, 42:11, 9:71, 49:13)
2) Iman searang wanita dinilai sama dengan pria tanpa perbedaan (OS 33:35, 38, 85:10, 47:19, 49:13)
3) Wanita dan pria mendapat imbalan yang sama atas perbuatan amal kebaikannya (QS 33:35, 3:195, 4:124, 16:97, 49:13).
4) Wanita dan pria memiliki hak yang sama dalam memperoleh harta dan memilikinya. (QS 4:4, 32)
Islam telah menempatkan wanita pada tempat yang sebaik-baiknya, namun kadang wanita tidak menyadarinya.


repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1647/1/arab-nasrah.pdf

My First Love


           Berawal pada tahun 2008. Saat itu, aku seorang Anggi Pratiwi masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kotabumi. Masa-masa pubertas baru saja dimulai. Saat itu pula aku baru mengenal kehidupan sebagai remaja yang pada umumnya telah mengenal teman lawan jenis. Sebelumnya aku hanya disibukkan dengan tugas-tugas sekolah yang banyak, sehingga tidak terpikir tentang cinta kepada lawan jenis dan mempunyai pacar. Aku berbeda dengan teman-teman, umumnya mereka telah mengenal pacaran sajak SMP. Saat aku SMP tidak ada sedikitpun rasa untuk memepunyai pacar seperti kebanyakan dari mereka. Mungkin karena aku agak sedikit tomboi, jadi teman laki-laki itu ku anggap sabagai teman yang kadang menjadi lawan berkelahi. Adapun salah satu dari mereka yang pernah ada feeling denganku, aku hanya tertawa dan mengabaikannya begitu saja.
            
              Ketika aku masuk ke SMK, aku mulai merubah penampilan. Aku sebagai seorang remaja muslim sadar akan kewajiban menutup aurat, sehingga aku memutuskan untuk bersekolah mengenakan jilbab. Sejak saat itu aku juga merubah perilaku ku sebagai seorang remaja putri yang penuh dengan rasa ingin tahu. Aku mulai mengenal yang namanya pacaran pada awal kelas XI. Saat itu temanku memeperkenalkanku dengan salah satu teman sekelasnya. Kebetulan kami berbeda sekolah, dia bersekolah di SMA 2 Kotabumi. Saat itu kami berkenalan hanya melalui Handphone, kami hanya SMSan.

            Awalnya kami berkenalan tanpa mengetahui bagaimana bentuk wajahnya. Sedikit penasaran, tapi aku pikir tidak masalah bagaimanapun wujud aslinya. Dia bernama Denni, saat itu dia berada satu tingkat diatasku. Hampir setiap hari kami SMSan, dia orang yang baik dan sedikit bersikap dingin dengan perempuan. Sekian lama aku memperhatikannya, dan aku semakin paham bagaimana sikap, sifat dan karakternya. Dia tidak seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya. Dia begitu pendiam dan misterius atau sulit untuk ditebak.

            Beberapa bulan sudah kami berkenalan dan SMSan. Saat itu kami baru mengenal jejaring sosial Facebook, dan belum trend atau belum banyak yang mengenal facebook seperti saat ini. Aku menganjurkan dia untuk membuat akun facebook karena saat itu belum terlalu populer. Disisi lain aku juga ingin sekali melihat fotonya. Tetapi saat itu dia tidak menggunakan foto aslinya, melainkan hanya menggunakan sebuah foto animasi kartun. Semakin penasaran ku dibuatnya.

“Apa dia juga penasaran ya kepadaku?. Ah, mungkin aja enggak.” Kata hatiku.

 Kemudian aku pun memberanikan diri untuk memintanya mengupload foto wajahnya. Dia membalas SMS saya dengan sebuah senyuman dan menganjurkan agar saya terlebih dahulu yang mengupload foto saya. Entah tidak tahu mengapa saya langsung saja melakukan apa yang dianjurkan olehnya.

“Kak, upload sih foto kakak itu!” kataku.
“Iya, nanti aku upload fotonya. Tapi, foto kamu dulu ya yang diupload.” Jawabnya santai.
“Hmm..gimana ya. Ya udah deh kak, nanti aku upload fotoku.”
“Oke deh.” Balasnya.

            Foto pun telah berhasil ku upload, aku memberitahukannya bahwa aku telah melakukan apa yang dia anjurkan, kemudian aku menagih janjinya yang akan mengupload fotonya. Dan ia pun menepati janjinya.

“Wajah yang manis”, terucap didalam hatiku saat melihat fotonya.
 “Apa dia juga ngerasain seperti yang aku rasain ya pas lihat fotoku?”. Sebuah pertanyaan yang menggelikan. Aku hanya tersenyum membayangkannya.

            Setengah tahun sudah kami menjalin komunikasi. Aku merasakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah ku rasakan. Rasanya hati begitu bahagia saat Denni SMS aku, dan saat sehari saja dia tidak SMS, entah mengapa hatiku menjadi gelisah tidak karuan. Mungkin karena kami terbiasa SMSan. Kata orang jawa, Weteng tresno jalaran seko kulino. Cinta datang karena terbiasa. Dalam hati kecil ku lahir seribu pertanyaan,

“Apa ini yang dinamain cinta?”. Hingga rasa itu terbukti jika aku benar menyukainya. “Apa yang telah terjadi? Ya Allah, akankah rasa ini terbalas? Apakah dia juga merasakan hal yang sama?.”

            Setiap hari aku semakin penasaran dengan seluk beluknya. Aku bertanya kepada teman saya tentang bagaimana keadaan dia, bagaimana keluarganya, dan masih banyak lagi. Ternyata dia dari keluarga yang berada. Aku sempat berkecil hati, dan mengurungkan perasaanku ini kepadanya. Betapa tidak, aku terlahir dari keluarga seorang petani, dan bukan dari kalangan orang yang berada.

“Apakah mungkin dia dan keluarganya mau menerimaku?”. Lagi-lagi hati ini mengajukan pertanyaan.

 Rasa ini biar kupendam saja, dan mungkin tidak ada seorangpun yang tahu. Tapi, sungguh sakit rasanya memendam perasaan cinta terhadap seseorang. Hingga suatu ketika aku melihat ada seorang perempuan mengomentari sebuah foto di album facebook milik Denni, hati ini rasanya sangat tidak menyukai perempuan itu, aku jealous!. Padahal posisi Denni saat itu belum menjadi pacarku.

“Alangkah bodoh!, apa yang udah aku lakuin?, Denni bukan siapa-siapaku, jadi buat apa aku jealous.” Ngomel sendiri.

Rasa itu masih tersimpan dihati ini, entah sampai kapan ku mampu mengungkapkan rasa ini kepadanya. Suatu ketika, setelah hampir satu tahun kami menjalin komunikasi, ada yang berbeda pada sikap dan perilakunya kepadaku. Denni terlihat lebih peduli kepadaku, bahkan dia pernah berkata kepadaku,

“Ada yang kurang kalau kamu enggak SMS.” Sungguh bahagia saat itu.
“Apakah cintaku akan terbalas?” pikirku.

Hari demi hari kurasakan adanya perubahan darinya. Hingga pada suatu hari dia pernah memanggilku dengan sebutan “sayang”, aku terkejut bukan main. Rasanya, hati ini seperti ingin meledak. Betapa bahagianya malam itu. Pagi harinya saya menceritakan semua tentang apa yang terjadi malam itu  kepada teman sebangku aku di sekolah, kemudian dia munyuruhku menanyakan apa maksud Denni memanggilku dengan sebutan seperti itu. Kemudian aku pun mengiyakan  apa yang dia katakan. Dengan hati yang deg-degan, aku memberanikan diri bertanya kepada Denni apakah maksudnya memanggilku dengan sebutan “sayang”. Setelah menunggu beberapa lama, handphone saya bergetar, ternyata ada satu pasan dari Denni. Hati pun semakin berdegup kencang bagai genderang mau perang, seperti salah satu lirik lagu milik Ahmad Dani. Dengan hati yang berasa seperti permen Nano-nano yang rame rasanya, aku membuka pesan itu, dan ternyata... dia hanya membalas dengan sebuah simbol smile yang ada di handphone.

“Uh, sebel banget rasanya.” Dalam hati saya.
 Tetapi tak lama kemudian Denni mengirimkan satu buah pesan lagi. Dia mengatakan,
“Apa kamu nyaman dipanggilan begitu?”
 Aku pun hanya membalas dengan simbol smile.
“Kalau kamu merasa nyaman aku panggil begitu, apa aku boleh manggil kamu begitu?, Dan apa aku boleh sayang sama kamu?”

Serasa bumi terbelah dua, aku tidak mampu berkata-kata lagi dan bingung harus menjawab bagaimana. Akhirnya aku mengajukan pertanyaan kepadanya,

“Apa kakak mau menerima keadaanku yang mungkin enggak sepadan dengan keadaanmu?, kita juga belum pernah ketemu, apa kakak mau terima aku dengan segala kekurangan ini?”
Dia mengatakan,
“Kita manusia sama aja, enggak ada yang membedakan kecuali amal shalehnya, insya Allah aku akan terima kamu apa adanya dan saya enggak akan nuntut  kamu lebih, kamu sendiri gimana?, apa kamu juga bisa terima aku apa adanya?. Kalau kamu belum tau jawabannya, aku kasih waktu kok buat kamu mikirin jawaban atas pertanyaanku tadi”. Semakin luluh tak berdaya hati ini dibuatnya.

Pada hari itu juga, tepatnya pada tanggal  24 Mei 2010, aku menerimanya sebagai teman pribadi, bisa dibilang pacar. Sungguh bahagia rasaku terbalas. Aku memutuskan untuk memilihnya sebagai pacar aku walaupun raga belum pernah berjumpa, mungkin karena dengan sikap dan gaya bicaranya, dia telah mampu menyihir hati aku. Aku bisa merasakan jika Denni adalah orang yang baik dan sholeh, terlihat dari setiap tutur katanya saat berbicara denganku. Kami memulai semuanya dengan begitu indah. Kesan yang indah untuk dikenang.

Belum lama kami pacaran, dia sudah lulus sekolah dan akan melanjutkan ke perguruan tinggi. Dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke Institut Tekhnologi Sepuluh November (ITS) di Surabaya. Sedikit muncul rasa sedih di dalam hati ini. Namun demi cita-cita dan masa depannya, aku pun turut mendukung keputusannya.

Kami memutuskan untuk bertemu pada saat hari raya Idul Fitri 1431 H. Denni datang kerumahku untuk pertama kalinya. Aku hanya memberinya alamat, dan dia berusaha menemukan rumahku meskipun dengan perjuangan karena dia belum mengetahui dimana rumahku sebelumnya.

Akhirnya, kami pun bertemu. Rasa hati tidak karuan, deg-degan, penasaran, senang, bercampur menjadi satu. Saat bertemu, kami bersalaman dan duduk diruang tamu. Kami saling terdiam, tidak tahu entah apa yang akan dibicarakan. Setelah lama terdiam, aku memecahkan kesunyian itu dengan menyodorkan sebuah pertanyaan padanya. Dia menjawabnya dengan sedikit malu. Saat sunyi terdiam seribu kata kembali tarulang, entah tidak tahu apa yang ada dipikiran kami saat itu. Kebetulan lebaran saat itu adalah hari jum’at, sehingga Denni memutuskan untuk pergi ke masjid dekat dengan rumahku untuk menunaikan shalat jum’at karena hari menjelang siang.

Selepas shalat jum’at Denni kembali kerumahku, dia mengajakku bersilaturahmi kerumah temanku. Tetapi aku harus meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua ku. Setelah mendapatkan izin, kami memutuskan untuk berangkat. Perasaanku tentu senang saat itu.

”apakah dia merasakan hal yang sama?”

Pertanyaan itu muncul kembali. Dan kami pun telah sampai dirumah salah satu temanku. Tak terasa waktupun berjalan begitu cepat dan terasa singkat. Akhirnya kami pulang karena hari telah sore dan juga karena ibuku berulang kali mengirimkan SMS menanyakan sudah pulang atau belum.
Beberap hari setelah kami bertemu, Denni datang kembali kerumahku, dia mengatakan,
 ”Aku pamit ya, besok aku mau berangkat ke Surabaya, baik-baik ya di sini, insya Allah aku pulang pas liburan semesteran.”

Sambil menyerahkan beberapa batang cokelat kepadaku, karena dia tahu kalau aku sangat menggemari cokelat. Perasaan sedih tentu saja ada. Bagaimana tidak, kami baru saja bertemu dan kini kami akan berpisah kembali. Aku hanya berpesan,

“Jangan lupa sholat, jaga kesehatan dan jaga hati saat disana ya kak.”
Dia tersenyum dan berkata,
 “Tentu aja.”

Akhirnya, keesokkan harinya Denni pergi ke Surabaya, tetapi aku tidak ikut melepas kepergiannya. Aku hanya bisa berkomunikasi lewat SMS. Dan aku menjalani hari-hari seperti biasanya, tanpa ada dia disini. Dan menunggu kedatangannya enam bulan yang akan datang. Itulah waktu yang musti kami tempuh untuk dapat bertemu kembali, karena Denni pulang ke Lampung hanya saat libur semester saja.

Enam bulan berjalan begitu cepat, Denni kembali ke Lampung. Aku merasa senang karena akan bertemu dengannya lagi. Saat itu aku sudah berada di kelas XII, sehingga aku sering di jemputnya saat pulang les di sekolah. Saat itu, dia sering membelikan saya ice cream dan cokelat. Dia hanya libur  2 minggu, jadi terasa sangat singkat. Dan itu terjadi terus menerus hingga sekarang.

Tidak terasa, pada tanggal 24 Mei 2011, setahun sudah perjalanan kami. Dihari itu kami merasa bahagia, beribu harapan telah dimunajatkan kepada Allah SWT.

Ya Allah…
Jadikanlah hubungan kami tidak melebihi batasan larangan-laranganMu
Mendapatkan berkah dan Ridho dariMu
 Semoga cinta kami tak melebihi cinta kepadaMu dan cinta kepada rosulMu

Saat liburan semester dua, liburannya cukup lama, kira-kira sekitar 2 bulan lamanya, sekaligus libur bulan Ramadhan. Saat itu juga aku telah lulus dari SMK, dan aku pun sudah diterima di STAIN Jurai Siwo Metro pada prodi Ekonomi Islam. Ketika akan melakukan daftar ulang, aku di hantarnya ke kota Metro. Dia menemaniku daftar ulang dari awal hingga selesai. Terkadang dia terlihat lelah dan sesekali aku memintanya untuk duduk saja. Siang itu turun hujan yang cukup lebat sehingga agak menghambat proses daftar ulang sehingga kami selesai pada pukul 14.30 WIB. Akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah sore dan jarak antara kota Metro dan Kotabumi cukup jauh.

Entah tidak tahu mengapa aku merasa nyaman dan bahagia saat bersamanya. Dia begitu baik kepadaku. Sebelumnya, aku belum pernah temukan orang sebaik dia. Dia begitu mengertiku, perhatian, dan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang aku temukan pada dirinya. Kali ini aku benar-banar merasakan adanya cinta yang tulus untukku.

Pada tanggal 26 Juli 2011 yang lalu, usiaku genap 18 tahun. Tetapi aku tidak dapat bertemu dengannya dikarenakan saat itu aku sedang mengikuti OPAK di STAIN Jurai Siwo Metro. Mungkin dia cukup kecewa, tapi itu semua tidak bisa diganggu gugat.

“Kak, maaf ya. Aku enggak bisa ketemu kakak pas hari ulang tahunku. Ya, mau gimana lagi, ini juga kepentingan kampus kak.” Kataku.
“Iya, enggak apa-apa  kok.” Jawabnya.
“makasih ya kak udah mau mengerti aku.” Ucapku.
“iya sayang, sama-sama.” Sahutnya sambil tersenyum.

 Tepat pukul 00.00 WIB, Denni mengirimkan ucapan selamat ulang tahun untukku, sebuah kata-kata sederhana yang dia ciptakan untukku.

Detik berlalu tanpa atau dengan kau beri makna
Jam berganti tanpa atau dengan pedulimu
Hari-hari bergati tanpa atau dengan tanpa baktimu
Selamat ulang tahun ku ucapkan kepadamu kekasihku
Meski tak semahal berlian
 Meskipun tak sewangi bunga mawar
Juga tak seindah rangkaian puisi
Hanya kalimat sederhana yang mampu ku buat
Dengan do’a disetiap kata yang terucap
Bergeraklah perlahan wahai sang waktu
Berhentilah sejenak walau tuk sekali ini saja
Karena sedetikpun aku tak boleh terlambat
Kadang hadiah terbaik datang dari sebuah pemahaman
Maka renungkanlah sejenak dihari kelahiranmu
Kini dirimu telah tumbuh dewasa
Happy birthday sayang
Semoga senantiasa sehat selalu dan berada dalam lindunganNya.
Amin.

Aku senang sekali, meskipun aku tidak dapat bertemu dengannya di hari bahagia itu. Setelah OPAK selesai, aku langsung pulang ke Kotabumi. Saat itu dia mengatakan akan menjemputku pulang kerumah ketika saya sampai gang menuju rumahku. Tetapi ternyata dia tertidur dan tidak menjemputku. Aku sempat kecewa saat itu, dia meminta maaf kapadaku karena dia tidak sengaja tertidur. Entah tidak tahu kenapa, aku menjadi marah kepadanya. Mungkin rasa kecewaku ini yang membuatku sangat marah kepadanya. Tetapi dengan sabarnya, dia meminta maaf kepadaku, hingga membuatku menangis di depannya. Dia pun tampak bingung ketika  aku menangis di hadapannya dan berusaha untuk menenangkan hatiku. Hingga akhirnya semua masalah terselesaikan.

Saat memasuki bulan Ramadhan, kami sering bertemu untuk berkeliling-keliling saja, dengan kata lain ngabuburit. Biasanya kami pergi ke taman kota, atau kami hanya berkeliling-keliling saja. Seperti biasanya, dia menjemputku pukul 16.00 WIB dengan mengendarai motor. Tidak jarang kami singgah untuk membeli makanan untuk berbuka puasa. Dia juga memberikan sebuah boneka Teddy Bear besar berwarna biru muda sebagai hadiah ulang tahun untukku. Aku merasa dia sangat menyayangiku.

Saat pertengahan bulan Ramadhan dia bertanya,
“Kamu mau enggak aku ajak ke rumah pas lebaran?, sekalian kenalan sama keluarga, biar akrab gitu.” Tentu aku kaget.
“Hmm, gimana ya kak?. Aku malu sama keluarga kakak.”
“Kenapa mesti malu to?” jawabnya dengan cepat.
“Ya…aku malu aja kak.”
“Udah, tenang aja. Keluargaku biasa-biasa aja kok, enggak kayak yang kamu pikirin.” Tegasnya.
“Ya udah deh, aku mau kak.”
“Nah, gitu dong dari tadi.” Sahutnya sambil tersenyum.

Dan hari itu akhirnya tiba, hari terakhir puasa di bulan Ramadhan. Rasa bahagia karena besok lebaran tetapi bercampur galau karena jika  besok lebaran, berarti aku akan bertemu dengan keluarganya. Tetapi pada malam yang seharusnya menjadi malam takbir itu tiba-tiba dikagetkan dengan keluarnya keputusan bahwa 1 Syawal 1432 H jatuh satu hari yang akan datang . Walaupun lebaran dimundurkan, aku senang karena setidaknya rasa deg-degan ini berkurang.

Akhirnya, saat itu tiba. Malam puncak 1 Syawal, malam dimana seluruh umat islam mengumandangkan takbir. Malam yang begitu indah, malam yang penuh dengan suka cita, malam kemenangan bagi umat islam. Pagi hari yang luar biasa pada 1 Syawal, dimana saat membuka mata, disambut dengan alunan-alunan takbir yang menggema. Subhanallah, sugguh nikmat rasanya jika setiap hari seperti pagi 1 Syawal.

Selepas shalat Ied di masjid, Denni menghubungiku, mengucapkan mohon maaf lahir dan batin. Disaat itu juga aku memutuskan untuk datang ke rumahnya pada hari lebaran yang kedua karena pada hari pertama, aku biasanya bersilaturahmi kepada sanak saudara dan juga tetangga sekitar rumah, dan dia pun mengiyakan permintaan itu. Dan keesokan harinya, dia menjemputku untuk datang ke kediamannya. Hati ini deg-degan luar biasa. Dia meminta izin kepada orang tua ku dan kami pun berangkat menuju rumahnya. Ternyata jarak rumah kami jauh sekali.

Sesampainya disana yang menyambut kami adalah adiknya yang paling kecil, anak laki-laki yang imut, pipinya yang begitu cubby membuatku ingin mencubit pipinya, Dhandy namanya. Kami masuk kedalam rumah, kemudian aku bersalaman dengan keluarganya. Keluarganya sangat baik sekali kepada saya. Sungguh keluarga yang harmonis. Ibunya, sosok ibu yang penyayang kapada keluarganya. Ayahnya, menurutku adalah orang yang tegas, bijaksana dan juga penyayang. Itu yang aku rasakan saat ku berada di kediamannya. Sikap ramah keluarganya membuatku nyaman berada di antara mereka. Dan tak terasa hari telah sore, aku berpamitan untuk pulang. Keluarganya menghantarku sampai teras rumah. Hari itu terasa sangat menyenangkan, tidak seperti yang ku bayangkan sebelumnya.

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk bertemu kembali, karena lusa dia akan berangkat menuju Surabaya lagi. Kami menghabiskan waktu bersama, berjalan-jalan mengelilingi kota. Terasa sedih ketika mengingat dia akan pergi lagi, tapi itu sudah menjadi konsekuensi dari awal. Dan dia pun benar-benar pergi meninggalkanku untuk yang kesekian kalinya.
Sudah hampir enam bulan, pertanda Denni akan kembali ke Lampung, dia akan pulang sekitar pertengahan bulan Januari 2012, libur semester tiga. Rasa ingin bertemu dan rasa bahagia begitu terasa. Dan sekarang saya sabar menunggu kedatangannya. Dialah orang yang aku cintai setelah Allah dan kedua orang tua ku.

Satu setengah tahun, waktu yang belum cukup lama dia mengisi hari-hari ku yang dahulu kosong tanpa adanya seseorang dihati ini selain orang tua dan keluargaku. Dia lah yang pertama dan semoga menjadi yang terakhir untukku. Walaupun kami jarang bertemu, dan bisa dikatakan hanya dua kali saja bertemu dalam satu tahun, kami saling percaya jika kami tidak akan berpaling ke lain hati. Kami telah berjanji untuk saling setia meskipun banyak orang tidak setuju dengan pendapat kami jika pacaran jarak jauh akan sulit dipertahankan. Tapi kami akan membuktikan jika pacaran jarak jauh akan lebih baik, dan dapat dipertahankan daripada pacaran jarak dekat. Karena menurutku, orang yang tidak mampu mempertahankan hubungan jarak jauh adalah orang yang tidak mampu mengendalikan nafsunya. Akibatnya rasa ingin bertemu selalu hadir dibenaknya.

Jalan kami memang berbeda dari kebanyakan orang yang tidak bisa menjalani pacaran jarak jauh atau yang biasa mereka sebut Long Distance Relationship. Kami merasa nyaman dan baik-baik saja dengan keadaan ini. Dengan keadaan seperti ini, kami dapat memahami arti sebuah kesetiaan yang banyak orang katakan. Banyak orang berkata tentang kesetiaan, namun merka tidak dapat membuktikannya. Tetapi, di sini kami dapat membuktikannya. Saling menjaga komunuikasi adalah salah satu cara kami menjaga tali cinta yang telah kami buat selama ini. Adakalanya hubungan kami mengalami berbagai masalah, sampai kadang-kadang aku pun merasa tidak bisa menyelesaikannya dengan kepala dingin. Tetapi dengan rasa sabar yang luar biasa dia membimbingku agar menyelesaikan masalah dengan hati yang sabar dan tidak menggunakan emosi.

Mungkin Denni adalah orang yang benar-benar dapat menerimaku dengan segala kekuranganku, dia selalu mengerti keadaanku. Walaupun jarak kami jauh, disaat aku butuh bantuan, dia selalu membantuku semampunya. Dia berbeda dengan anak laki-laki pada zaman sekarang, dia orang yang baik, tidak nakal seperti kebanyakan anak muda sekarang ini, sholeh, taat pada orang tua, dan sayang kepada keluarganya. Orang yang benar-benar ku harapkan bisa menjadi imam keluargaku kelak.

Aku bahagia telah memilih dan menjadi pilihannya, semoga Allah SWT mengabulkan do’a kami, semoga kami akan selalu bersama-sama sampai kapan pun hingga maut yang akan memisahkan kami. Amin.
 Barokallahufik. ^_^










Galau

GALAU!! Sebuah kata yang populer belakangan ini dikalangan anak muda. Sebenarnya galau itu tidak hanya anak muda yang merasakan, tetapi juga dirasakan oleh semua manusia di muka bumi ini.Sering kali mereka mengungkapkan kegalauannya tersebut diberbagai jejaring sosial seperti facebook, twitter dan sebagainya. Sebenarnya galau itu merupakan perasaan tidak menyenangkan yang ada dalam hati seseorang. Rasa gundah gulana akibat sesuatu yang terjadi yang menjadikan beban pikiran di kehidupan orang tersebut.

Biasanya orang yang sedang galau cenderung murung dan menyendiri karena dia merasa tidak ingin diganggu oleh siapapun. Seseorang akan mengalami galau jika ada sesuatu yang membuat hatinya sedih. Perasaan sedih tersebut akan menjadi beban pikiran dan ia akan terus menerus memikirkan hal tersebut. Sebaiknya jika anda merasa galau pergilah untuk melakukan sesuatu yang mampu membuat anda lupa akan hal yang membuat anda merasa galau. Pastikan anda tidak malakukan hal anarkis disaat anda sedang merasakan galau. Karena disaat anda merasakan galau, anda sulit untuk mengontrol emosional anda. ^_^

Anggi's History

 Namaku Anggi Pratiwi. Biasa disapa Anggi. Lahir di salah satu desa di Lampung Utara tepatnya di desa Trimodadi kecamatan Abung Selatan pada hari Senin, 26 Juli 1993 dari pasangan Rukidi dan Sri Wiyati. Aku dua bersaudara, adikku laki-laki yang bernama Vicky Nuruddin. 


Pertama kali sekolah di SD Negeri 2 Trimodadi pada tahun 1999. tidak melalui pendidikan TK dan sederajat. Lulus SD, lanjut ke SMP 3 Abung Selatan dan lulus pada tahun 2008. Kemudian aku melanjutka karirku sebagai siswi ke SMK Negeri 1 Kotabumi dengan jurusan yang amat sangat membuatku pusing, ya apalagi kalo bukan Akuntansi. Pada tahun 2011, aku menaikkan sedikit jabatanku sebagai siswi menjadi mahasiswi di Sekolah Tinggi Negeri di Kota Metro, Lampung. Berharap lepas dari Akuntansi pasca lulus SMK, tapi Allah berkehendak lain. Aku masuk pada Program Study Ekonomi Islam yang tidak lepas pada hitung menghitung Akuntansi. Tapi semua pasti akan berjalan baik-baik saja.

Aku tipe orang yang egois, temperamental, gak jelas, gak cantik, gak pinter, gak menarik dan gak banget. Ya, itulah aku. Tapi semua itu nikmat rasanya jika bersyukur kepada Allah. Alhamdulillah...



Ini adalah keluargaku. Bapak adalah sosok yang paling disegani di rumah dan lingkungan rumah. Meskipun galak dan suka marah-marah, tapi beliau begitu sayang dengan anak-anaknya. Ibuku orang yang luar biasa. Insan yang tiap hari menjadi chef di rumah ini begitu sabar ngehadapi aku, bapak dan adik. Keluargaku adalah keluarga yang sederhana. Hidup apa adanya dan tak ada yang istimewa. 










Ini awal kisahku di blog yang baru saja ku buat. Rabu, 22/2/2012.